Kamis, 27 Januari 2011

Pernikahan Bukan Seperti Ilmu Ma'tematik 2 x 2 = 4 ??

Mengapa "B.M" Tidak menikah
"B.M" Adalah Nama Inisial

Nona B.M. Sekarang usianya 30-an, berpendidikan tinggi, bekerja sebagai PNS, dan hidup sendiri di Lombok. Keinginannya yang besar adalah menikah. Dia menginginkan cinta, teman hidup, sebuah rumah dan anak-anak.

Dulu B.M sudah hampir menikah, dia hanya tinggal menunggu 1 hari. Tetapi setiap kali dia hampir menikah, dia menemukan sesuatu yang salah dengan pemuda yang akan menikahinya. (“Pada saat sebelum membuat kesalahan fatal.”)

Sebuah contoh : dua tahun yang lalu, B.M. berfikir bahwa akhirnya dia menemukan pemuda yang tepat. Pemuda itu menarik, mapan dan cerdas. Tapi B.M harus benar-benar yakin bahwa pernikahan adalah keputusan yang benar. Ketika mereka mendiskusikan rencana pernikahan di suatu malam, B.M membuat beberapa pernyataan yang mengganggu pemuda tersebut.

Jadi, untuk memastikan dia akan dinikahi pemuda yang tepat, B.M membuat dokumen sebanyak 4 halaman untuk disetujui pemuda itu sebelum mereka menikah. Dokumen yang diketik rapi dan tampak sangat legal, mencakup setiap segmen kehidupan yang dapat dipikirkan oleh B.M. Ada satu hal mengenai agama : Jika lebaran idul fitiri dan idul adha nanti kita rayakan dimana, apakah dikeluarga suami atau istri, berapa banyak mereka menyumbang untuk masjid, dll. Bagian lain mencakup tentang anak-anak : berapa banyak dan kapan.

Secara terinci, B.M merangkum jenis-jenis teman yang mereka miliki, status kepegawaian calon suami, tempat mereka akan tinggal, dan pembelanjaan uang mereka.

Untuk mengakhiri dokumen, B.M menuangkan separuh halaman untum mendata kebiasaan khusus yang harus dihentikan atau harus dilakukan oleh si pemuda. Ini mencakup kebiasaan seperti merokok, minum, hiburan, dan sebagainya.

Ketika pemuda itu meninjau ultimatum Nona B.M itu, dia melakukan seperti yang kita bayangkan. Dia mengembalikannya dengan sebuah catatan berbunyi, “ Janji perkawinan yang biasa, untuk yang lebih baik atau yang lebih buruk, sudah cukup bagus untuk orang lain, dan untuk saya. Semua ini omong kosong”.
Ketika B.M menghubungkan pengalamannya dengan saya dia berkata dengan cemas, “Sekarang apa yang salah dengan menulis persetujuan itu? Lagipula, bukanlah pernikahan itu sebuah langkah yang besar. Kita harus sangat berhati-hati”

Tetapi B.M salah. Anda dapat menjadi terlalu berhati-hati, tidak hanya dalam merencanakan pernikahan tapi dalam merencanakan segala sesuatu di dunia dimana segala sesuatu serba beres. Standar itu bisa terlalu tinggi. Pendekatan B.M terhadap pernikahan sangat mirip dengan pendekatannya terhadap pekerjaan, tabungan, dan yang lainnya.

Pengujian atas orang-orang yang sukses bukanlan kemampuan untuk menghentikan semua masalah sebelum muncul, melainkan menghadapi dan mengatasi kesulitan ketika kesulitan itu muncul. Kita harus bersedia membuat kompromi yang cemerlang dengan kesempurnaan, kecuali kita menunggu selamanay sebelum mengambil tindakan.

Menyebrang jembatan adalah nasihat yang baik, jika kita menjumpai jembatan.

Rabu, 19 Januari 2011

Mau Di Bawa Kemana Masa Depan Anda ??


            Setiap perkembangan manusia – penemuan besar dan kecil, penemuan perikanan, kedokteran, rekayasa kelautan, keberhasilan usaha – pertama-tama kita bayangkan, sebelum kemudian menjadi kenyataan. Bulan mengitari bumi bukan karena penemuan tidak sengaja, melainkan karena para ilmuwan menetapkan untuk “menaklukan ruang angkasa” sebagai sebuah tujuan. 

            Tujuan adalah sasaran. Tujuan lebih dari sebuah mimpi; tujuan adalah mimpi yang ditindaklanjuti. Tujuan tidak sekedar berandai-andai, “Oh, seandainya saya dapat.”
            Tujuan adalah menetapkan “Inilah yang akan saya kerjakan.” Sesuatu tidak terjadi, langkah maju tidak diambil sampai sebuah tujuan ditentukan.
            Tanpa tujuan, orang hanya mengembara dalam hidup. Mereka tidak pernah mengetahui akan kemana, sehingga tidak pernah sampai dimana pun.
            Tujuan penting bagi keberhasilan, seperti udara bagi kehidupan. Tidak seorang pun pernah mencapai sukses tanpa sebuah tujuan. Tidak ada orang hidup tanpa udara. Jadi, perjelaslah kemana anda ingin pergi.
            Mas Rudy berkembang, Umur 23 tahun bekerja dengan bayaran Rp.600.000,- per bulan di perusahaan perikanan sebagai teknisi biasa, dan menjadi wakil Presiden  perusahaan tersebut di usia 27 tahun, dan menjadi presiden perusahaan diusia 33 tahun. Inilah pendapatnya tentang tujuan :

“YANG PENTING BUKAN DIMANA ANDA DULU ATAU DIMANA ANDA SEKARANG, TAPI DIMANA ANDA NANTI”.

            Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang selalu merencanakan tujuan perusahaan 10 sampai 15 tahun yang akan datang. Presiden Perusahaan yang baik harus bertanya, ”Bagaimana kita menginginkan perusahaan ini 10 tahun dari sekarang?” Kemudian mereka mencurahkan tenaga untuk itu.. Fasilitas perusahaan yangbaru dibangun tidak untuk kebutuhan hari ini, melainkan untuk kebutuhan 5 samapi 10 tahun ke depan. Riset dan rekayasa dilakukan untuk mengembangkan produk yang belum akan mucul dalam 1 dekade atau lebih. 
            Perusahaan modern tidak meninggalkan masa depannnya dari peluang. Setiap orang dapat mempelajari pelajaran yang berharga dari perusahaan yang  melihat ke depan. Anda dapat dan seharusnya membuat rencana paling sedikut 10 tahun ke depan. 
            Dari sekarang, anda harus mempunyai bayangan tentang orang yang anda inginkan 10 tahun mendatang jika anda menjadi orang tersebut. Ini adalah berpikir. Seperti hal nya perusahaan yang mengabaikan rencana ke depan akan gagal (meskipun dia bertahan), orang yang tidak menyusun rencana jangka panjang pun hampir pasti akan menjadi orang kalah dalam perjalan hidup. Tanpa tujuan kita tidak dapat tumbuh
            Saya akan membagi dengan anda sebuah contoh mengapa kita harus mempunyai tujuan jangka panjang untuk mencapai sukses yang sejati. Minggu yang lalu, seorang pemuda (sebut saja Herman) menemui konsultan psikologis dengan sebuah masalah karir. Herman tampaknya berperangai baik dan cerdas. Dia masih bujangan dan telah meyelesaikan pendidikan tinggi selama 4 tahun  yang lalu. 
            Mereka membicarakan sejenak kegiatannya sekarang, pendidikan, sikap kecakapan, dan latar belakang secara umum. Kemudian sang konsultan berkata kepada Herman. “ Anda datang untuk meminta bantuan saya membuat perubahan kerja. Jenis pekerjaan seperti apa yang anda cari ??”
            “Baik.” Herman berkata. “ Itulah yang ingin kubicarakan dengan anda. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan.”
            Tentu masalahnya sangat umum. Tetapi Sang konsultan menyadari bahwa mengatur wawancara untuk pemuda ini dengan beberapa pengusaha, tidak akan membantunya. Cara coba-coba seperti ini tidak baik untuk karir. Dengan lusinan kemungkinan karir yang ada, dia mungkin menemukan pilihan yang tepat dari 12 yang ada. Sang konsultan tahu bahwa harus membantu Herman  untuk menyadarinya. Sebelumnya dia memulai pencarian karir, dia harus mengetahui pekerjaan apa yang diinginkannya.
            Karena itu Sang konsultan berkata, “ Mari kita melihat rencana anda dari sudut ini. Maukah anda menggambarkan citra diri anda 10 tahun dari sekarang?”
Herman, tampak jelas mempelajari pertanyaan itu, akhirnya berkata, “Baiklah, kurasa aku menginginkan seperti apa yang diinginkan oleh orang lain : Pekerjaan yang bagus dengan bayaran yang bagus, dan sebuah rumah. Meski begitu, sungguh,”dia melanjutkan, “ saya belum memikirkannya.” 
            Sang Konsultan meyakinkan dia bahwa hal ini cukup wajar. Kemudian menjelaskan bahwa pendekatannya untuk memilih sebuah karir bagaikan kita pergi ke counter tiket pesawat terbang dan berkata “ Beri aku tiket.” Penjual tiket tidak dapat membantu anda, kecuali anda memberitahukan sebuah tujuan. Jadi saya berkata, “Dan saya tidak dapat membantumu menemukan pekerjaan, sampai saya mengetahui tujuan anda. Hanya anda yang dapat mengatakan tujuan itu.”
            Ini memaksa Herman untuk berpikir. Dia menggunakan waktu 2 jam berikutnya tidak untuk membicarakan manfaat dari jenis-jenis pekerjaan yang berbeda, tapi membicarakan bagaimana menyusun tujuan . Sang Konsultan percaya, Herman mendapat pelajaran terpenting dalam perencanaan karir: sebelum memulai, Anda harus mengetahui kemana tujuan Anda. 

            Seperti cerita perusahaan diatas, buatlah rencana ke depan. Anda dapat diibaratkan sebuah unit usaha. Bakat, keterampilan dan kemampuan Anda adalah produk anda.
            Anda ingin mengembangkan produk, karena itu produk tersebut sepatutnya dihargai setinggi mungkin. Membuat rencana akan mewujudkannya. 

            Berikut ini adalah 2 langkah yang akan membantu anda :

Pertama, visualisasikan masa depan anda menjadi 3 bagian : pekerjaan, rumah, dan kehidupan sosial. Membagi kehidupan dengan cara ini mencegah anda dari kebingungan, konflik, dan membantu Anda untuk melihat gambaran masa depan anda secara menyeluruh.
Kedua, carilah jawaban yang jelas tepat untuk pertanyaan ini : Apa yang ingin saya capai dalam hidup ini ? Saya ingin menjadi apa ? Dan apa yang diperlukan untuk memuaskan saya ?

Selasa, 18 Januari 2011

Alur Menuju S.St.Pi

Sarjana Saint Terapan Perikanan (S.St.Pi) adalah suatu gelar bagi Taruna (Sebutan Mahasiswa STP-red) yang telah menamatkan pendidikan selama genap empat (4) tahun di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta. Adapun untuk meraih gelar tersebut sangatlah tidak mudah, karena harus melewati beberapa proses dahulu. Proses tersebut berbeda dengan proses dimana seperti Mahasiswa-mahasiswa lain pada umumnya. Karena STP Jakarta memiliki sistem pendidikan dan pembinaan yang khas. Adapun proses-proses tersebut dapat dijelaskan secara garis besar sebagai berikut :
1. Tes Masuk STP
Meliputi Tes Administrasi, Tes Akademik, Tes Kesehatan,Tes Jasmani dan Tes Wawancara
Dari pengalaman yang saya dapatkan, tes-tes tersebut setiap tes langsung diumumkan dan pendaftar yang gugur tidak berhak lanjut pada tes selanjutnya.
2. DIKLATSAR
Ketika diumumkan lulus maka status peserta belum disebut sebagai Taruna, tapi disebut Calon Taruna (CATAR). Karena harus melalui beberapa proses lagi untuk menyandang status Taruna STP. Salah satunya yaitu harus mengikuti kegiatan LATSARMIL (Latihan Dasar Militer) yang dilakukan di Markas Rindam Jaya selama 2 Minggu. Kegiatan ini langsung dibina oleh pihak KOSTRAD (ABRI). Selama 2 minggu digojlok dengan system militer. Bayangkan saja selama 2 minggu, waktu istirahat per hari hanya 4 jam. Berarti selama 20 jam kita dilatih dan dibina di lapangan. Maka tidak aneh kalau abis mengikuti pelatiahan ini banyak teman-teman yang tumbang jatuh sakit.
3. MOSTAR
Ketika kegiatan LATSARMIL selesai, maka kegiatan selanjutnya adalah MOSTAR (Masa Orientasi Taruna). Kegiatan ini dilaksanakan selama 10 hari di kampus STP Jakarta. Pada waktu ini juga status kami masih Calon taruna (CATAR) karena masih belum dilantik. Kegiatan ini adalah sebagai perkenalan pihak STP kepada CATAR dari mulai Instruktur, fasilitas dan system pendidikan. Kegiatan ini diikuti oleh CATAR dan wajib pakai baju kemeja putih, celana hitam dan kepala wajib botak licin.
4. MASA BASIS
Inilah masa-masa tersulit di STP, yaitu masa BASIS yang dilaksanakan selama 3 bulan. Dan ini adalah proses terakhir yang dilakukan para CATAR untuk meraih status TARUNA STP. Poin yang kami dapatkan dalam BASIS ini adalah bagaimana caranya kita menghargai waktu, kedisiplinan dan sikap. Selama 3 Bulan kami diterpa, digojlok, didididk, dibina, dilatih, dan diperkenalkan dengan system pembinaan STP yang menganut system herarki senioritas dan semi militer. Tapi dari sekian banyak perjuangan didapat, kami mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu kami menghargai arti korsa (kekompakan).
5. PELANTIKAN TARUNA
Dari sekian banyak kegiatan yang kami ikuti, akhirnya kami dilantik sebagai taruna STP.
6. MATRIKULASI KULIAH
Adalah kegiatan kuliah di kelas, yang pelajarannya adalah pelajaran dasar IPA karena kami berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda dan kualitas SMA yang berbeda pula. Maka nya untuk menyamaratakan pengetahuan kita dilakukanlah matrikulasi.
7. PPKMP
Adalah Praktek Pengenalan Kegiatan Masyarakat Pesisir (PPKMP) yang dilakukan pada awal semester 1 dilaksanakan di Indramayu selama 2 minggu. Secaga garis besar kegiatan ini dimaksudkan agar para Taruna lebih mengenal dan mendalami bidang perikanan yang nyata dilapangan, sebelum mereka mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi Perikanan (STP)
8. KULIAH
Kuliah dilakukan di kampus STP Jakarta dan BAPPL (STP) Serang. Di kampus Jakarta lebih condong didominasi oleh teori bidang budidaya air tawar, sedangkan di kampus BAPPL (STP) serang didominasi oleh kegiatan praktek untuk bididaya laut dan payau karena kampus BAAPL Serang lokasinya dekat dengan laut.
9. PRAKTEK KEAHLIAN
Singkat cerita sudah memasuki semester 6. Dan pada waktu itu dilaksanakan praktek keahlian selama 2 bulan yang dilakukan di kampus STP Serang. Kegiatan ini pada dasarnya bertujuan agar taruna ahli pada bidang masing-masing, misalnya ahli dalam bidang pembenihan udang windu atau ahli dalam bidang kultur plankton, karena selama praktek keahlian berlangsung kami diberikan ilmu dan tanggung jawab untuk mengelola suatu usaha perikanan. Karena kami pada semester 6 itu genap sudah 3 tahun mengikuti pendidikan di STP, itu artinya kita satu jajar dengan ahli madya (A. md) pada kuliah di luar program D 3 (Diploma 3).

10. PRAKTEK INTEGRASI
Praktek integrasi adalah salah satu praktek wajib yang harus dilaksanakan semua taruna, dan itu merupakan salah satu syarat taruna untuk melanjtukan ke semester 7. Dilakukan selama 2 bulan, dan Taruna diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri lokasi prakteknya dengan kriteria persyaratan lokasi tentunya. Pada saat itu saya melaksanakan praktek integrasi di PT. Central Pertiwi Bahari atau dengan nama lain Dipasena yang merupakan salah satu pembenihan udang terbesar di Dunia. Sata sangat bangga karena dapat melaksanakan praktek yang lokasinya di lampung ini, adalah teknologinya standar internasional dan tentunya banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan pada praktek integrasi ini.

11. KARYA ILMIAH PRAKTEK AKHIR (KIPA)
Adalah praktek akhir yang wajub dilaksanakan semua taruna dan meruapakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Saint Terapan Perikanan (S.St.Pi). Dilakukan selama 3 bulan dan taruna berhak menentuakn sendiri lokasi prakteknya. Adapun salah satu syarat pengajuan judul praktek kipa harus memenuhi beberapa unsure, diantaranya : penelitian, aspek manajemen ataupun analisa usaha. Dan praktek kipa saya dilaksanakan di perusahaan mutiara di daerah Lombok, Nusa tenggara Barat. Seperti yang kita ketahui selain Sulawesi, NTB adalah andalan Indonesia penghasil mutiara.

12. WISUDA SARJANA
Akhirnya sampai juga pada tahap akhir pendidikan yaitu Wisuda Sarjana sebagai suatu simbolis bahwa kita telah menyandang gelar Sarjana. Hari wisuda adalah hari yang ditunggu-tunggu Taruna/I semuanya dan juga hari yang dimulai nya perjuangan hidup di masa depan. Karena setelah wisuda, besok nya kita harus meninggalkan kampus tercinta dan ketika langkah kita melewati pintu gerbang kampus STP, detik itu, menit itu adalah tanda pluit ditiupkan bahwa perjuangan hidup telah dimulai. Ya dimulai, karena kita harus mulai berfikir makan gimana, tinggal dimana, dan mau kemana tujuan hidup kita. Karena pada waktu pendidikan di STP, kita diberi makan, asrama dan biaya kuliah gratis, tapi ketikan kita sudah wisuda… kita gak dapat lagi semua jaminan hidup itu dan mau gak mau harus hidup mandiri.

Selama jalan kawan, selamat berjuang mengarungi hidup ini. Jangan pernah pesimis, jangan pernah takut menghadapi kerasnya hidup ini. Karena selama 4 tahun kita satu atap, satu ompreng dan satu perjuangan kita sudah terbiasa dengan kehidupan asrama dan pendidikan militer yang keras. Dan teruslah konsisten di dunia perikanan, karena visi misi kita, pendidikan kita adalah untuk perikanan. Kita harus bangga, karena kita sebagai almamater STP dididik selama 4 tahun agar mempunyai pengetahuan yang holistik mengenai perikanan. Tunjukkan pada mereka yang selama ini iri pada STP, bahwa kita unggul dilapangan. Ranah kita adalah praktisi bukan peneliti. Kita disiapkan bukan untuk duduk di kursi yang mewah pake dasi di gedung gemerlap kota, Tapi kita disiapkan untuk terjun langsung ke lapangan, yang mencurahkan tenaga, waktu, materi dan setiap tetesan keringat kami adalah untuk kesejahteraan rakyat seluruhnya. Kita jangan mengambil upeti atau pajak dari hasil keringat para nelayan dan pembudidaya ikan.



Kritik & Saran Silahkan Sampaikan di Comment …
Created By : Arief Rahman Hakim_TAK_XLII_ Date : 16_Mei_2010

Arief Rahman Hakim, S.St.Pi: UDANG VANNAMEI 34

Udang vannamei kelas wahid

Jumat, 14 Januari 2011

UDANG VANNAMEI 34

SEMINAR PRAKTEK INTEGRASI
TEKNOLOGI AKUAKULTUR ( TAK )
SEKOLAH TINGGI PERIKANAN
JAKARTA 2009

Nama/Nrp/Prodi        :     Arief Rahman Hakim / 4206417542 / TAK
Judul                          :     Teknik Produksi Naupli Udang Vaname (L. vaname) Di
                                          Maturation Naupli Production Departement (MNPD) PT. Central Pertiwi Bahari – Lampung Selatan
Hari/Tanggal             :     14 Oktober 2009
Program Studi           :     TAK / VII
Dosen Pembimbing   :     1. Ir. Mulyanto, M.Ed
                                          2. Eka Yulianta, S.Pi, M.Si

RINGKASAN

PENDAHULUAN
         Perkembangan dari sektor budidaya semakin maju sehingga secara langsung mendorong pengadaan benih semakin meningkat. Perkembangan budidaya udang di tambak, khususnya tambak udang vaname membutuhkan benur dalam jumlah yang relatif banyak. Dilihat dari segi kuantitas pada tahun 2006 - 2009, kebutuhan benih udang vaname secara kumulatif sebanyak 21,5 milyar ekor (Warta Budidaya 2009). Dalam perbenihan perikanan, termasuk udang harus menerapkan sistem mutu benih yang menjamin kualitas benih, memperkecil resiko kegagalan, dan meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, pengadaan benur harus ditangani secara baik dan benar menurut kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Usaha tersebut dilakukan karena benur merupakan cikal bakal proses produksi udang di tambak dan memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.Dengan latar belakang demikian maka penulis tertarik dengan mengambil tema “Teknik Produksi Naupli Udang Vaname”. Tujuan dari praktek ini adalah : mengetahui dan mampu melakukan teknik produksi naupli udang vaname.
METODE PRAKTEK
            Praktek integrasi dilaksanakan mulai tanggal 15 Juli sampai dengan 15 September 2009 yang bertempat di PT. Central Pertiwi Bahari  Desa Suak, Sidomulyo- Lampung Selatan. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan metode survey dengan pola magang yaitu mengikuti seluruh kegiatan yang terkait dengan kegiatan produksi naupli udang vanname (Litopenaeus vannamei) yang ada di perusahaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
            Tahap awal adalah suplay air laut yang dikelola oleh water management, dengan melalui beberapa proses diantaranya melalui sand filter I dan sand filter II yang didalamnya terdapat pasir silika. Dialirkan ke bak reservoir, kemudian dipompa melalui pipa untuk proses ozonisasi di tampung di bak penampungan kemudian dipompa ke water clow dan air siap ditransfer ke bak pemeliharaan induk. Standar rata-rata kualitas air: Ph : 8,3 ppt, Salinitas 33 ppt, alkalinitas 102, Suhu 30 (○) C, DO : 4,9 ppm
            Tahap kedua adalah persiapan induk meliputi penerimaan induk datang dengan proses aklimatisasi di bak receiving, dengan menyamakan kualitas air seperti suhu diturunkan dengan menggunakan es balok. Ukuran bak 8x6x1 m, volume total 40 ton. Kedatangan induk berjumlah 1102 ekor, 276 ekor jantan dan 275 betina, dalam kemasan dus terdapat 2 kantung plastic induk, masing masing kantung berisi 12 liter air media dan terdapat 5-6 ekor induk. Rata-rata berat 42 Gram untuk betina dan 37 Gram untuk jantan dengan panjang 14 cm.
            Dilanjutkan dengan pemberian pakan,jenis pakannya cumi laut dan cacing laut, dengan dosis 20 % dari berat bio massa jadi berat induk 46284 gram x 20 : 100 = 9256.8 gram=9 kg/ hari.Kemudian proses ablasi mata dengan rician : ambil induk yang sehat dan anggota tubuh yang lengkap, panaskan gunting Bunsen dan potong salah satu tangkai mata induk betina, masukan kedalam baskom yang sudah diberikan iodine. Setelah proses ablasi dilanjutkan dengan induk ditransfer ke bak maturasi untuk proses kematangan gonad induk, standar selama 2 minggu.
            Setelah 2 minggu di bak maturasi dilakukan sampling induk yang sudah matang gonad, maka didapatkan 137 induk ditransfer ke tank spawning (1 ton) dengan persiapan tank dicuci dengan detergen, berikan kaporit 100 ppm, dan bilas dengan air, berikan EDTA 8 ppm dan Treflan 0.5 ml per tank, berikan aerasi di tengah tank.Untuk perlakuan : 10 ekor betina yang sudah kawin dimasukkan ke tank spawning untuk pemijahan telur. Untuk jumlah telur sebanyak 37.330.000 butir dari 137 induk. Dengan HR 50,9 %.
            Pengamatan Telur : Telur yang dibuahi berdiameter 0,22 mm, pembelahan sel telur dari satu sel ke dua sel terjadi pada 25 menit setelah pemijahan (SP), kemudian empat sel terjadi pada 25 menit SP, kemudian 4 sel pada 30 menit SP, sel-sel telur membelah menjadi 8 sel, kemudian 16 sel terjadi pada 65 menit SP, Selanjutnya 32 sel,64, 128  sel pada 1 jam 55 menit SP, fase morula terbentuk pada 2 jam 5 menit SP, fase blastula pada 3 jam 30 menit SP, fase gastrula terjadi pada 4 jam 30 menit,fase embrio pada 5 jam SP dicirikan dengan tumbuhnya anggota badan seperti antennula dan antenna, pada 9 jam SP bagian tubuh embrio tampak jelas dan 20 menit berikutnya menetas. 
            Pemanenan Naupli sebagai berikut : Jumlah Naupli 18.912.500 naupli dari 137 induk yang spent. Jadi jumlah naupli per induk sebanyak 138.047 naupli.
Persiapan, Tank 1 ton untuk penampungan air sterilisasi alat dan bahan selama panen dengan melarutykan iodine 100 ppm untuk desinfektan, siapkan 6 baskom plastik diisi air laut kemudian larutkan formalin 5 ppm dengan maksud untuk steril media dan naupli sendiri dari media asal dipindah ke media baru, siapkan baskom 3 buah posisi bertingkat yang sudah dilarutkan formalin dengan posisi air mengalir sirkulasi dari atas ke bawah untuk menyeterilkan seser panen (seser panen ukuran 150 mikron)
            Dengan perlakuan : 1. Matikan aerasi dari tank holding yang aktif 8 buah, agar naupli melayang keatas dan mudah unutk diseser, 2. Sesudah mengumpul diatas permukaan air, baru diseser naupli dari tank, 3. Angkat dan masukkan sejenak ke dalam baskom yang sudah diisi air dan formalin, 4. Kemudian masukan ke dalam plastic panen yang sudah diberikan aerasi. Kemudian paking dengan rapih dan sipa di transfer.

KESIMPULAN
1.      Hasil pengamatan selama praktek jumlah rata-rata induk yang spent per hari sebanyak 125 ekor dari total 1102 induk.
2.      Jumlah telur yang dihasilkan pada saat melakukan praktek di lapangan adalah 37.330.000 butir dari 137 induk yang spent dengan HR 59,6 %.
  1. Hasil pengamatan selama praktek jumlah nauplius yang dihasilkan 18.912.500 ekor dari 137 ekor induk betina yang spent
  2. nilai HR yang baik dalam produksi naupli yaitu diatas 50 % dengan didukung pemberian pakan terhadap induk yang  diberikan berupa cumi 60%, cacing laut 40%, sangat efektif untuk induk udang vanname. Faktor lain yang harus diperhatikan yaitu kualitas air selama pemeliharaan memenuhi syarat dengan  kualitas air yang memiliki nilai tempertur 29-310C, salinitas 30-32‰, pH 7,7-8,2, DO 4,5–9 mg/l, untuk penanganan pasca panen yang cukup mencapai target yang telah direncanakan mencapai diatas 17.000.000 naupli per hari

SARAN
  1. Sebaiknya saat melakukan sampling induk yang telah kawin agar lebih hati-hati. Tujuanya agar pada saat induk dipindahkan atau sampling tidak mengalami stres.
2        Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai kualitas sperma udang putih vanname, karena selama pengamatan di lapangan ada beberapa sperma yaitu sperma kering berwarna putih cerah, sperma banyak jel berwarna putih susu, sperma banyak jel tetapi tidak bisa melekat berwarna putih cerah dan sperma banyak jel berwarna putih kecoklatan.

Identifikasi Pakan Alami

Semoga Bermanfaat ...


           


”Teknik Dan Analisis Usaha Produksi Spat Tiram Mutiara (Pinctada maxima). Oleh Arief Rahman Hakim, S.St.Pi

Latar Belakang

           Salah satu potensi besar yang ada di perairan Indonesia yang mempunyai prospek cerah untuk dibudidayakan adalah tiram mutiara (Pinctada maxima). Tiram mutiara merupakan salah satu komoditas dari sektor kelautan yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa mendatang (Paonganan, 2000). Mutiara yang dihasilkan di Indonesia terkenal dengan jenis Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) merupakan jenis mutiara yang terbaik kualitasnya di dunia (Poernomo, 2010).


Harga mutiara jenis South Sea Pearl yaitu US$ 100-200 per gram untuk kualitas terbaik (Supriyadi, 2010). Pemasaran tidak tergantung pada biji mutiara, namun permintaan antar pengusaha lebih tertarik pada anakan larva antara 4-6 cm dan dewasa 7 cm hingga siap operasi inti. Harga tiram mutiara hidup ukuran dewasa (6–12 cm) bervariasi antara Rp. 3000,- - Rp. 4.000,- / cm (Hamzah, 2010).
            Data dari World Cultured Pearl Organization (WCPO, 2009) pada tahun 1999 devisa ekspor mutiara Indonesia mencatat nilai sekitar US$ 68 juta. Sementara itu Global Pearl Production Estimates in Value (2010) menyatakan angka perkiraan nilai ekspor mutiara pada tahun 2000  jenis South Sea Pearl sebanyak 4,5 ton (US$ 200 juta). Setiap tahun, produksi mutiara akan terus meningkat. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP, 2010) pada tahun 2005 produksi mutiara mencapai 12 ton, diperkirakan selama periodik 2005-2010 produksi mutiara akan meningkat dari 12 ton menjadi 18 ton pada tahun 2010.
            Indonesia memiliki areal budidaya dan potensi lahan untuk pengembangan budidaya laut, khususnya tiram mutiara yaitu sebesar 62.040 ha, namun pemanfaatannya hanya sebesar 1 % (Sunaryanto, 2002 dalam Hamzah, 2010). Saat ini, dari total produksi mutiara yang ada di pasar internasional sekitar 26 % berasal dari Indonesia. Dilihat  dari potensi perairan  Indonesia, seharusnya produksi mutiara dapat ditingkatkan hinggga 50 % dari porsi pasar internasional (Poernomo, 2010).
Pada permulaan abad ini, stok tiram mutiara masih melimpah tetapi saat ini sudah sangat kritis karena overfishing, polusi dan  perubahan kondisi habitat (Ramirez, 1992 dalam Widowati et al., 2009). Saat ini di Indonesia untuk memproduksi mutiara sebagian besar menggunakan kerang yang berasal dari hasil budidaya, karena kerang alam sulit ditemukan (Martono, 2010). Jumlah perusahaan yang bergerak di bidang usaha budidaya tiram mutiara di Indonesia sudah cukup banyak, namun yang mempunyai unit pembenihan masih terbatas. Menurut Winanto (2004), dari 65 perusahaan yang ada, diperkirakan hanya sekitar 10 % yang mempunyai unit pembenihan sendiri. Kemudian Nurdjana (2010), menambahkan bahwa pada saat ini jumlah perusahaan yang bergerak di bidang produksi mutiara mengalami peningkatan menjadi 71 perusahaan.
Seiring dengan pesatnya laju perkembangan kegiatan usaha budidaya tiram mutiara, maka kebutuhan benihpun semakin meningkat yang memenuhi syarat, baik jumlah, kualitas, maupun ukurannya. Terbatasnya jumlah benih yang diperlukan jelas akan menimbulkan kesenjangan produksi mutiara (Winanto, 2004). Oleh karena itu sangatlah bijaksana apabila benih tiram mutiara tersebut diupayakan melalui pembenihan buatan (hatchery). Dengan cara demikian kesinambungan produksi mutiara akan terjamin.
Kelancaran dan kesinambungan aktivitas usaha pembenihan yang dilakukan oleh suatu perusahaan tidak dapat dilepaskan dari aspek finansial, karena suatu usaha dapat dikatakan sehat apabila dapat memberikan keuntungan yang layak dan mampu memenuhi kebutuhan finansialnya. Salah satu cara untuk mengendalikan aspek ini adalah dengan melakukan suatu analisa usaha, dimana dengan dilakukannya analisis usaha ini, pengusaha dapat menentukan tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan dalam perusahaannya.
Atas dasar pertimbangan tersebut, maka penulis tertarik untuk mendalami dan menulis tentang "Teknik dan Analisis Usaha Produksi Spat Tiram Mutiara (Pinctada maxima)
Seleksi Induk Untuk Menhetagui Tingkat Kematangan Gonad Siput

Dari Siput (Kerang) yang jelek, kasar dan bau ... bisa menghasilkan MUTIARA seindah ini

ARIEF RAHMAN HAKIM. Teknik Dan Analisis Usaha Produksi Spat Tiram Mutiara (Pinctada maxima) di PT. Buana Gemilang Hamparan Mutiara, Nusa Tenggara Barat. Dibawah bimbingan : ENDHAY KUSNENDAR dan EKA YULIANTA.

  Ringkasan


Eksploitasi tiram mutiara sampai saat ini masih didominasi oleh penangkapan dari alam. Hal ini sangat tidak relevan karena tiram alam tidak dapat menjamin kontinuitas produksi, keberadaan tiram dipengaruhi oleh musim, dan jika ditangkap terus menerus keberadaan benih tersebut akan punah. Situasi demikian sangatlah perlu diupayakan melalui kegiatan yang mengarah penyediaan benih secara terkontrol melalui suatu pembenihan buatan (hatchery).
            Pelaksanaan Praktek Akhir ini bertujuan untuk menganalisis teknik pemijahan dan kegiatan pemeliharaan larva/spat tiram mutiara serta menganalisa dari aspek finansial. Permasalahan dalam Praktek Akhir ini dibatasi pada masalah teknis yang meliputi : persiapan wadah dan air media pemeliharaan, seleksi induk, pemijahan, penetasan dan perhitungan Hatching Rate (HR), pemeliharaan larva/spat, perhitungan Survival Rate (SR), pemberian pakan, pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH dan DO), panen serta analisis finansial pada tingkat pendapatan, B/C ratio, Break Even Point (BEP), Return of Investment (ROI), Pay Back Periode (PBP), Net Present Value (NVP), dan Internal Rate of Return (IRR).
            Bak pemijahan dan pemeliharaan larva/spat yang digunakan sebanyak 20 bak fiber glass volume 1000 liter. Bak pemijahan dan pemijahan dan pemeliharaan larva diletakkan didalam ruang pemijahan dengan kondisi ruangan yang tertutup pencahayaan yang rendah. Bak diberikan aerasi sebanyak 2 titik yang dilengkapi dengan batu aerasi yang bertujuan suplay oksigen merata.
            Induk yang dipijahkan per siklus produksi sebanyak 5 ekor yaitu : 2 ekor jantan dan 3 ekor betina yang berasal dari hasil tangkapan alam (Perairan Sumbawa). Ukuran dorsal ventral induk 20-25 cm dengan tingkat kematangan gonad (TKG) III & IV. Pada proses pemijahan, induk tiram terlebih dahulu dirangsang dengan metode kejut suhu (thermal shock). Kemudian induk memijah 20 menit setelah perlakuan tersebut. Perkembangan telur menjadi larva (Fase D-Shape) berlangsung selama ±20 jam dengan daya tetas telur (HR) 80 %.
            Pakan alami sebagai pakan untuk larva digunakan fitoplankton dari jenis Isochrysis galbana, Pavlova luthery, dan Chaetocheros grasillis dengan dosis pemberian yang disesuaikan dengan umur larva. Pemeliharaan larva dari awal menetas sampai dengan fase plantigrade akhir (D22) dilakukan dengan sistem air tenang (stagnan water system) tetapi setelah larva mulai menempel yang ditandai dengan munculnya titik hitam (eye spot) pada tubuh larva, dilakukan dengan sistem air mengalir (running system water). Yaitu setiap hari menjelang diberikan pakan, dilakukan ganti air dari mulai pukul 0700 – 10.00 WITA.
            Pada fase spat, bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan media penempel berupa kolektor berukuran 30x40 cm  dari bahan PE (Polyethylene) dengan cara digantungkan pada permukaan badan air di bak pemeliharaan (bak kolektor). Fase perkembangan larva terdiri dari fase D-Shape, umbo, pediveliger, plantigrade, dan spat. Tingkat kelangsungan hidup berturut-turut adalah 80% (HR), 95%, 75%, 20%, 10%, 2,3%, 2% (SR). Sedangkan pertumbuhan larva untuk fase D-Shape berkisar 60-180 µm (13 hari), Umbo 180-230 µm, Pediveliger 220-230 µm, Plantigrade 230-270 µm, dan fase spat 270-2500 µm.
            Pemanenan spat dilakukan pada hari ke-45 dengan ukuran rata-rata spat mencapai 1500-2500 µm. Spat kolektor hasil panen sebanyak 800 kolektor dengan kepadatan rata-rata 500 ekor/kolektor. Hasil pengamatan kualitas air media tidak menunjukkan fluktuasi yang tinggi. Nilai kisaran kualitas air media pemeliharaan yaitu : suhu 29.0°C - 29.9°C, Salinitas 33‰, pH 8.00‰ - 8.25‰, dan DO 4.80‰ - 4.91‰.
            Jumlah investasi awal untuk membuka usaha produksi spat tiram mutiara (Pinctada maxima) adalah Rp. 235.000.000,-, dengan penyusutannya Rp. 32.499.360,-/tahun. Kemudian biaya tetap untuk setiap tahunnya sebesar Rp. 157.953.817,- dan biaya variabel Rp. 57.046.183,-. Pendapatan produksi per tahun dengan 4 kali siklus produksi adalah Rp. 400.000.000,-, Kemudian dipotong pajak pendapatan sebesar 10 % menjadi Rp. 360.000.000,-. Dengan analisis finansial, diperoleh tingkat keuntungan bersih sebesar Rp. 145.000.000,-/tahun, Titik impas (BEP) produksi 1720 kolektor/tahun, (BEP) harga Rp. 67.187.-/kolektor. Sedangkan nilai B/C ratio 1,67 (lebih besar dari satu), Pay Back Period (PBP) 1,32 tahun Return of Investment (ROI) 167 %, Net Present Value (NPV) Rp. 252.154.890,- dan Internal Rate of Return (IRR) 25, 62 % yang menunjukkan angka lebih besar dari tingkat suku bunga bank yang berlaku yaitu 24 %. Berdasarkan pada hasil analisis dan suku bunga (discounted) kriteria investasi diatas, maka proyek/usaha produksi spat tiram mutiara ini direkomendasikan layak  (feasible) untuk dilanjutkan.